It starts in my toes, makes me crinkle my nose,
where ever it goes I always know.
That you make me smile
please stay for a while now, just take your time, where ever you go...

Rabu, 30 Maret 2011

preparing for the morning mass

These days I'm kinda used to going to the church in the morning and attending the mass there. Thanks to all of my beloved friends, that give me such a great support of constructing this beautiful habit to my daily routines. Bram, Yogi, Bagus, Rara, Edo, Asti, you all rock, guys!!
I love attending the mass, because I need it.
Personally, I, myself, feel the differences that happen after I attend the mass every morning (compared with what happens if I spend my whole morning sleeping and doing nothing):
  • Going to the mass in the morning forces me to take a bath earlier than usual. When I have taken a bath, I could feel fresher, I feel that I'm getting more and more ready to face the whole day activities.
  • Going to the mass in the morning pumps my energy, it gives me some kind of spirit, something that I needed the most to keep working and fighting until 8 p.m everyday.
  • Going to the mass in the morning reminds me of being a better person, always, since there is one rite in a mass that allow us to confess every single bad deed that we have done the previous day and promise not to do it again.
  • Going to the mass in the morning gives me more guarantee of safety and security. I can feel safer wherever I drive, I can feel more secure wherever I walk, I can feel more peaceful since I have a reliable Father behind me that will always protect me, guard me, and preserve me...
Well, though I'm not that religious, I would like to suggest you to start this habit. When you have already getting used to it, you will feel that everything are changing to be better since you are attending your first mass. You will be more obedient to your schedule, you will have more strength to move on, and what is clear, you will have more faith to God.

Get up earlier! Live better!

since it's his...



This night was so special, just like the other night when I heard that voice.
For you, it might be a usual voice.
For you, it might be no extraordinary.
But for me, that voice means everything.

He could be far away, most of the time.
He could be unreachable.
He could be unseen.
But this voice lets me feel that he is only one baby step away, smiling and talking to me.

This voice reminds me how deep I should believe
This voice reminds me how high I should hope
This voice reminds me how deep I should love
This voice reminds me about what does he mean to me now, and ever

Since it's soothing, smooth, and calm
Since it's gentle, preserved and guard
Since it's the first voice that I want to hear tomorrow morning when I open my eyes...
Since it's also the last voice from whom I want to hear a good-night
Since it's his voice!

*missing you badly...


as a teacher, I'm being exploited *hufftt...




I hope I can work for myself instead of working to the other people

Ya, susah memang kalau kita belum punya cukup kemampuan untuk merintis pekerjaan kita sendiri sementara kita butuh duit buat seabrek keperluan sehari-hari. Mau nggak mau akhirnya kita pasti cari seribu macam jalan untuk bekerja pada orang lain (baca: bisa lembaga, institusi, dll).

Awalnya sih kita pikir itu cuma rintisan awal untuk mengasah kemampuan dan profesionalitas kita secara lebih dalam sebelum kita akhirnya mampu terjun ke bidang enterpreneurship yang sekarang emang lagi menjamur dan merebak dimana-mana. Tapi, tanpa kita sadari, jenis pekerjaan yang menumpang ini (bisa saya bilang gitulah ya...) akan jadi sangat melekat dengan keseharian kita dan kita pun akan jadi terbiasa sampai melupakan idealisme awal kita yang berupa usaha mandiri tadi.

Hari ini, saya, seperti biasa mendapat tugas dari suatu lembaga kursus tempat saya bekerja untuk mengajar ekstrakurikuler Bahasa Inggris di sebuah SMP. Bukan pekerjaan yang menyenangkan buat saya, meski saya sangat senang mengajar. Keseharian mengajar di kursusan memang sangat saya nikmati, karena dalam satu kelas paling banyak cuma ada 5 hingga 8 anak yang harus saya ajar tiap kelas dan tiap jamnya. Jumlah anak yang sedikit dengan background kemampuan Bahasa Inggris yang rata-rata setara sangat memudahkan saya dalam pencapaian materi, jujur saja. Sementara apa yang terjadi di SMP ini jauh sebaliknya. Setiap kali datang, saya (dan beberapa kawan) harus menghandle minimal 20 orang anak dari background kemampuan Bahasa Inggris yang berbeda dan minat yang sangat bervariatif terhadap pelajaran Bahasa Inggris itu sendiri. Akhirnya, tiap pertemuan, di kelas selalu terjadi apa yang namanya kucing-kucingan. yang lemah mengejar yang pintar sampe ngos-ngosan, sementara yang pintar kelamaan menunggu gerak si lemah sampe mati bosan! Haduuuh... Nah, dengan kondisi yang menantang (anggap saja begitu) ini SMP membayar kami dengan jauh lebih murah, tentu karena mereka menyodorkan proyek borongan. Ya, kami dibayar lebih murah untuk kerja yang jauh lebih beraaaat.
Hebatnya lagi, minggu lalu mereka (diwakili oleh salah seorang guru - yang mengaku sebagai koordinator) meminta kami untuk mengconduct suatu writing project yang harus dibuat oleh tiap anak untuk exhibition program di sekolah tersebut dan mengkoreksi serta membenarkan semuanya. Apaaaa???!!! Kami pun kontan terkejut nggak karuan. Enak sekali mereka membebankan semua tanggung jawab kepada kami hanya karena kami nggak lebih dari pekerja upahan mereka? Nah, nggak hanya itu saja. Keesokan harinya, kami juga diminta untuk menyuruh anak-anak untuk mempersiapkan speaking project untuk dipamerkan pada saat penemrimaan rapot (hingga orang tua/wali murid) bisa melihat kemampuan Bahasa Inggris masing-masing putra dan putrinya. Dan, yang menyebalkan, acara ini rencananya akan diadakan hari Sabtu! Gosh! tentu saja itu sudah keluar dari jadwal kerja kami!

Pada akhirnya, jelas sebagai orang yang masih dianugerahi Tuhan sebuah kehendak bebas, kami memilih untuk menolak semuanya. Kami memang suka dan senang mengajar, tapi saat kesenangan kami itu dimanfaatkan sesuka hati oleh para pemberi kerja, siapa yang tahan?

Ya, beginilah nasib bawahan, nasib kaum-kaum terbayar.
Pada akhirnya nanti jika pingin bener-bener jadi seorang yang mandiri, bermutu, dan bergengsi, memang saya, juga anda harus keluar dari jerat setan ini. Dan itu, segera!

Let's fight to be independent! Don't wanna be exploited. Rule your own life!!!

Selasa, 29 Maret 2011

even in a medical science, women are being suppresed *a feminist idea of mine

Masih menyangkut kanker payudara , setelah browsing ke berbagai sumber dan membaca berbagai macam artikel, bukan cuma terkejut yang aku dapatkan, tapi juga miris berkepanjangan...

http://www.kedaiobat.co.cc/2010/05/tanda-tanda-kanker-payudara.html


http://kankerpayudara.wordpress.com/2007
/12/25/kanker-payudara-gejala-penyebab-dan-diagnosa/

Sungguh tragis nasib kita para wanita, dalam berbagai macam aspek kehidupan, mulai dari aspek sosial bermasyarakat, agama (dari dasar biblis dan sebagainya), hingga aspek kesehatan sekalipun, kita kerap kali menerima (bahkan mungkin selalu) perlakuan yang bisa dibilang tidak adil...

Dalam aspek sosial bermasyarakat misalnya, sudah bukan hal yang aneh lagi masih ada beberapa oknum atau grup tertentu (bahkan mungkin masyarakat yang terdekat dengan kita sendiri) yang berpikiran bahwa wanita adalah seorang pemegang tugas domestik rumah tangga, memasak, mencuci, merawat anak, tinggal di rumah, melayani suami, dan mengabdi kepada keluarga, yang tentu saja akan menimbulkan batasan-batasan gerak yang tidak ditemui pada kaum pria yang lebih bebas keluar malam, yang bisa memilih pekerjaan mereka seenaknya, dsb...

Dalam agama sekalipun, wanita selalu menjadi yang nomor dua. Tidak ada wanita yang pantas dan layak menjadi imam, ataupun kepala keagamaan. karena Yesus adalah pria, karena Muhammad juga laki-laki nyata, maka itu berarti tidak akan pernah ada pastur wanita, kyai wanita, dsb. Padahal, siapapun tentu tahu bahwa tongkat religiusitas kebanyakan wanita lebih tinggi daripada mereka yang pria.

Dan sekarang dalam aspek kesehatan. Kenyataan bahwa hanya wanita yang akan merasakan sakitnya proses persalinan, kenyataan bahwa virginitas adalah sesuatu yang hanya melekat pada wanita, dan bukannya mereka yang pria, kenyataan bahwa selaput dara yang bisa robek (yang mengarah pada segel kesucian itu) hanya dimiliki wanita dan bukannya pria, ataupun pada akhirnya kenyataan bahwa kanker payudara hanya menjadi resiko mematikan untuk para wanita dan bukannya para pria, kadang membuat akupun berpikir "kenapa aku harus terlahir menjadi wanita?"
Bahkan sebuah keputusan untuk tetap menajdi single bagi seorang wanita bisa menjadi bumerang yang mematikan. Padahal toh, saat seorang wanita memutuskan menjadi single tentu itu adalah keputusannya pribadi dan hanya akan mempengaruhi hidupnya sendiri, tanpa menyenggol kepentingan orang lain. Tapi kenyataannya, betapa kerasnya perlakuan dunia, kepada kita para wanita?

We are created as a woman, with all of woman's organ and all of woman's characteristic.


Menjadi wanita bukan suatu pilihan , itu adalah anugerah yang khusus diberikan Tuhan pada kita. As sex is a gift and gender is an option. Kita nggak bisa memungkiri jenis kelamin kita, meskipun masih memungkinkan untuk kita memungkiri gender kita (read: gay, lesbian).

Hanya saja, sampai kapan keadaan bahwa wanita akan selalu menjadi yang dirugikan ini akan berakhir? Ataukah memang ini adalah suatu hukum alam yang paten dan selamanya nggak akan pernah bisa berubah?

unmarried = unhealthy, is it???



Baru saja Mama menerima telpon dari seorang teman, dan ekspresi wajahnya langsung berubah seketika. Awalnya sih aku pikir itu nggak lebih dari ungkapan ke"lebai"an para ratu-ratu gosip itu kalau denger berita baru yang heboh (dengan standard mereka sendiri plus racikan bumbu penyedap yang dahsyat - baca: tambahan informasi sensasional yang nggak jelas jluntrungannya). Tapi begitu aku denger sendiri apa yang mereka bicarakan di telpon itu, aku mengelus dadaku perlahan.

"Mbak Bunga (bukan nama sebenarnya) kena kanker payudara, Din."

"Hah??!!"

"Sudah stadium tiga."

"Apa?!!"

Ternyata aku nggak kalah lebai dengan mereka!

Mbak Bunga, saat itu juga bayangan akan wajahnya mampir sejenak di otakku.

Aku rasa Mbak Bunga menjalani hidup yang normal, layaknya wanita-wanita single seusiaku. Dia hidup berdua bersama dengan ibunya, memiliki karier yang mapan dan cenderung stabil, hingga mampu menanggung hidupnya sendiri dan ibunya yang sudah nyaris tutup usia, pendoa yang rajin, seseorang dengan sedikit sekali cela. Sebagai seorang kawan dia cukup menyenangkan. Pribadinya yang ramah, terbuka, dan humoris membuat banyak orang kerasan berada di dekatnya. Selain itu, ia juga pribadi yang nggak neko-neko dan sederhana, nggak terlalu suka menonjolkan diri, apalagi mencoba mengungguli ataupun bersaing dengan orang lain. Sebagai seorang karyawan, ia juga seorang yang sangat bertanggung jawab. Meski pekerjaannya tidak menghasilkan pendapatan yang berlimpah, tapi dia selalu mengerjakan semuanya dengan cinta. Ia jarang mengeluh, jarang memasang muka masam, apalagi uring-uringan. Dia melakukan segalanya sebaik yang ia bisa.

"Aku rasa itu karena Mbak Bunga nggak memenuhi kodratnya sebagai wanita."

"Hah?!"


Mbak Bunga adalah seorang wanita yang sudah sekian lama menjadi sekretaris di tempat Mamaku bekerja. Sayangnya, sebagai seorang yang sudah cukup matang dan dewasa (usianya nggak juah beda dari Mama) Mbak Bunga belum juga memiliki suami. Inilah satu hal yang cukup mengherankan darinya. Aku rasa nggak cuma aku yang selama ini bertanya-tanya. Kawan lain pasti juga memendam rasa ingin tahu yang sama, ya meski tentunya nggak ada yang berani atau cukup tebal muka untuk menanyakan alasannya.

"Sebagai seorang wanita ia harusnya menikah, mempunyai anak, dan menyusui."


Terjengat aku mendengar perkataan Mama. Tapi dari ungkapan Mama yang terakhir inilah aku mulai bisa menerka dan menghubungkan semuanya. Rupanya Mama berpikir bahwa jika seorang wanita (seperti Mbak Bunga) nggak memenuhi kodratnya secara utuh sebagai seorang wanita, maka akan ada kemungkinan salah satu organ dalam tubuhnya nggak akan berfungsi sebagaimana semestinya, sehingga akan menyebabkan beberapa siklus kesehatan jadi terhambat, dan akhirnya akan mengarah ke penyakit (seperti kanker payudara ini misalnya).

Benarkah hal seperti itu bisa terjadi?

Dan jika memang benar, maka kasihan sekali ya nasib para biarawati yang telah memutuskan untuk hidup selibat?? (Ataukah memang Tuhan telah merancangkan suatu hak khusus sehat kepada mereka ini? Hehehehe)

Menjadi single adalah pilihan, dan setiap pilihan tentunya dilandasi oleh suatu alsan yang kuat. Juga bukan hal yang baru jika dalam setiap pilihan yang kita ambil selalu ada resikonya. Tapi, apakah memang benar resiko semacam inilah yang harus dihadapi oleh setiap wanita yang memilih untuk hidup sendiri lebih lama dari yang lainnya???

*kenapa aku masih merasa bahwa kesimpulan yang dibuat Mamaku adalah kesimpulan yang janggal ya?? (Sayangnya aku nggak punya background sedikitpun dalam bidang kedokteran jadi nggak tahu apa jawaban permasalahan ini secara ilmiah dengan dasar ilmu pengetahuan.)
Unmarried = unhealthy? Masa sih??






Senin, 28 Maret 2011

jauhnya Surabaya...


What a life!
What an ironic!

"surabaya"
Sebuah pesan masuk di hapeku, dari dia.

"I wish I were there, with you..."

Ironis memang, jarak kami sangat dekat kini, tapi tetap saja kami nggak bisa bertemu segampang itu.

"Harusnya kemarin aku berangkat ke situ."


Ya, sekarang yang ada ya cuma penyesalan. Saat sudah terlalu banyak pertimbangan yang memegang peran, bukan nggak mungkin kita lepas bahagia.

"Ya khan nanggung. Nggak sebanding dengan waktumu ke Surabaya."

"Memang jelas nggak sebanding. Aku dapat lebih."

karena bahagiaku ada, kalau aku bisa bersama kamu.