
I hope I can work for myself instead of working to the other people
Ya, susah memang kalau kita belum punya cukup kemampuan untuk merintis pekerjaan kita sendiri sementara kita butuh duit buat seabrek keperluan sehari-hari. Mau nggak mau akhirnya kita pasti cari seribu macam jalan untuk bekerja pada orang lain (baca: bisa lembaga, institusi, dll).
Awalnya sih kita pikir itu cuma rintisan awal untuk mengasah kemampuan dan profesionalitas kita secara lebih dalam sebelum kita akhirnya mampu terjun ke bidang
enterpreneurship yang sekarang emang lagi menjamur dan merebak dimana-mana. Tapi, tanpa kita sadari, jenis pekerjaan yang menumpang ini (bisa saya bilang gitulah ya...) akan jadi sangat melekat dengan keseharian kita dan kita pun akan jadi terbiasa sampai melupakan idealisme awal kita yang berupa usaha mandiri tadi.
Hari ini, saya, seperti biasa mendapat tugas dari suatu lembaga kursus tempat saya bekerja untuk mengajar ekstrakurikuler Bahasa Inggris di sebuah SMP. Bukan pekerjaan yang menyenangkan buat saya, meski saya sangat senang mengajar. Keseharian mengajar di kursusan memang sangat saya nikmati, karena dalam satu kelas paling banyak cuma ada 5 hingga 8 anak yang harus saya ajar tiap kelas dan tiap jamnya. Jumlah anak yang sedikit dengan
background kemampuan Bahasa Inggris yang rata-rata setara sangat memudahkan saya dalam pencapaian materi, jujur saja. Sementara apa yang terjadi di SMP ini jauh sebaliknya. Setiap kali datang, saya (dan beberapa kawan) harus meng
handle minimal 20 orang anak dari
background kemampuan Bahasa Inggris yang berbeda dan minat yang sangat bervariatif terhadap pelajaran Bahasa Inggris itu sendiri. Akhirnya, tiap pertemuan, di kelas selalu terjadi apa yang namanya kucing-kucingan. yang lemah mengejar yang pintar sampe ngos-ngosan, sementara yang pintar kelamaan menunggu gerak si lemah sampe mati bosan! Haduuuh... Nah, dengan kondisi yang menantang (anggap saja begitu) ini SMP membayar kami dengan jauh lebih murah, tentu karena mereka menyodorkan proyek borongan. Ya, kami dibayar lebih murah untuk kerja yang jauh lebih beraaaat.

Hebatnya lagi, minggu lalu mereka (diwakili oleh salah seorang guru - yang mengaku sebagai koordinator) meminta kami untuk meng
conduct suatu
writing project yang harus dibuat oleh tiap anak untuk
exhibition program di sekolah tersebut dan mengkoreksi serta membenarkan semuanya. Apaaaa???!!! Kami pun kontan terkejut nggak karuan. Enak sekali mereka membebankan semua tanggung jawab kepada kami hanya karena kami nggak lebih dari pekerja upahan mereka? Nah, nggak hanya itu saja. Keesokan harinya, kami juga diminta untuk menyuruh anak-anak untuk mempersiapkan
speaking project untuk dipamerkan pada saat penemrimaan rapot (hingga orang tua/wali murid) bisa melihat kemampuan Bahasa Inggris masing-masing putra dan putrinya. Dan, yang menyebalkan, acara ini rencananya akan diadakan hari Sabtu!
Gosh! tentu saja itu sudah keluar dari jadwal kerja kami!
Pada akhirnya, jelas sebagai orang yang masih dianugerahi Tuhan sebuah kehendak bebas, kami memilih untuk menolak semuanya. Kami memang suka dan senang mengajar, tapi saat kesenangan kami itu dimanfaatkan sesuka hati oleh para pemberi kerja, siapa yang tahan?
Ya, beginilah nasib bawahan, nasib kaum-kaum terbayar.
Pada akhirnya nanti jika pingin bener-bener jadi seorang yang mandiri, bermutu, dan bergengsi, memang saya, juga anda harus keluar dari jerat setan ini. Dan itu, segera!
Let's fight to be independent! Don't wanna be exploited. Rule your own life!!!