It starts in my toes, makes me crinkle my nose,
where ever it goes I always know.
That you make me smile
please stay for a while now, just take your time, where ever you go...

Selasa, 29 Maret 2011

unmarried = unhealthy, is it???



Baru saja Mama menerima telpon dari seorang teman, dan ekspresi wajahnya langsung berubah seketika. Awalnya sih aku pikir itu nggak lebih dari ungkapan ke"lebai"an para ratu-ratu gosip itu kalau denger berita baru yang heboh (dengan standard mereka sendiri plus racikan bumbu penyedap yang dahsyat - baca: tambahan informasi sensasional yang nggak jelas jluntrungannya). Tapi begitu aku denger sendiri apa yang mereka bicarakan di telpon itu, aku mengelus dadaku perlahan.

"Mbak Bunga (bukan nama sebenarnya) kena kanker payudara, Din."

"Hah??!!"

"Sudah stadium tiga."

"Apa?!!"

Ternyata aku nggak kalah lebai dengan mereka!

Mbak Bunga, saat itu juga bayangan akan wajahnya mampir sejenak di otakku.

Aku rasa Mbak Bunga menjalani hidup yang normal, layaknya wanita-wanita single seusiaku. Dia hidup berdua bersama dengan ibunya, memiliki karier yang mapan dan cenderung stabil, hingga mampu menanggung hidupnya sendiri dan ibunya yang sudah nyaris tutup usia, pendoa yang rajin, seseorang dengan sedikit sekali cela. Sebagai seorang kawan dia cukup menyenangkan. Pribadinya yang ramah, terbuka, dan humoris membuat banyak orang kerasan berada di dekatnya. Selain itu, ia juga pribadi yang nggak neko-neko dan sederhana, nggak terlalu suka menonjolkan diri, apalagi mencoba mengungguli ataupun bersaing dengan orang lain. Sebagai seorang karyawan, ia juga seorang yang sangat bertanggung jawab. Meski pekerjaannya tidak menghasilkan pendapatan yang berlimpah, tapi dia selalu mengerjakan semuanya dengan cinta. Ia jarang mengeluh, jarang memasang muka masam, apalagi uring-uringan. Dia melakukan segalanya sebaik yang ia bisa.

"Aku rasa itu karena Mbak Bunga nggak memenuhi kodratnya sebagai wanita."

"Hah?!"


Mbak Bunga adalah seorang wanita yang sudah sekian lama menjadi sekretaris di tempat Mamaku bekerja. Sayangnya, sebagai seorang yang sudah cukup matang dan dewasa (usianya nggak juah beda dari Mama) Mbak Bunga belum juga memiliki suami. Inilah satu hal yang cukup mengherankan darinya. Aku rasa nggak cuma aku yang selama ini bertanya-tanya. Kawan lain pasti juga memendam rasa ingin tahu yang sama, ya meski tentunya nggak ada yang berani atau cukup tebal muka untuk menanyakan alasannya.

"Sebagai seorang wanita ia harusnya menikah, mempunyai anak, dan menyusui."


Terjengat aku mendengar perkataan Mama. Tapi dari ungkapan Mama yang terakhir inilah aku mulai bisa menerka dan menghubungkan semuanya. Rupanya Mama berpikir bahwa jika seorang wanita (seperti Mbak Bunga) nggak memenuhi kodratnya secara utuh sebagai seorang wanita, maka akan ada kemungkinan salah satu organ dalam tubuhnya nggak akan berfungsi sebagaimana semestinya, sehingga akan menyebabkan beberapa siklus kesehatan jadi terhambat, dan akhirnya akan mengarah ke penyakit (seperti kanker payudara ini misalnya).

Benarkah hal seperti itu bisa terjadi?

Dan jika memang benar, maka kasihan sekali ya nasib para biarawati yang telah memutuskan untuk hidup selibat?? (Ataukah memang Tuhan telah merancangkan suatu hak khusus sehat kepada mereka ini? Hehehehe)

Menjadi single adalah pilihan, dan setiap pilihan tentunya dilandasi oleh suatu alsan yang kuat. Juga bukan hal yang baru jika dalam setiap pilihan yang kita ambil selalu ada resikonya. Tapi, apakah memang benar resiko semacam inilah yang harus dihadapi oleh setiap wanita yang memilih untuk hidup sendiri lebih lama dari yang lainnya???

*kenapa aku masih merasa bahwa kesimpulan yang dibuat Mamaku adalah kesimpulan yang janggal ya?? (Sayangnya aku nggak punya background sedikitpun dalam bidang kedokteran jadi nggak tahu apa jawaban permasalahan ini secara ilmiah dengan dasar ilmu pengetahuan.)
Unmarried = unhealthy? Masa sih??






Tidak ada komentar:

Posting Komentar